Pelangi dan masa kecil

Pelangi..pelangi…alangkah indahmu

Merah…kuning…hijau…di langit yang biru

Hahaha….

Dua anak SD di depan tertawa-tawa asyik setelah selesai menyanyikan lagu “Pelangi”. Soalnya mereka nyanyi sambil nunjuk-nunjuk pakaian para penghuni angkot. Satu anak masih mengenakan pakaian seragam SDnya, celana merah. Anak satu lagi sudah ganti baju, kaos bebas dan celana kuning. Mereka diantar seorang bapak berjaket biru. Lengkap? Belum, hijaunya mana? Haha….itu saya yang pakai rok hijau. Jadi saat nyanyi, mereka nunjuk celana merah SD, celana kuning, rok hijau saya, dan jaket sang bapak.

Saya perkirakan mereka kelas 2 atau 3 SD. Lucu, rasanya sudah lama saya enggak dengar lagu anak-anak yang dinyanyikan anak-anak. Kebanyakan anak-anak sekarang nyanyi lagu orang dewasa. Iya lah, emang lagu anak-anaknya juga enggak ada. Kenapa ya? Kurang memberikan profit mungkin? Atau isinya yang katanya masih perlu diperbaiki? Kemarin pas lagi hobi nyanyi lagu “Bintang Kejora” (hayooo…ada yang masih hafal g? hehe g wajib kok) eh,,,dibilang separatis, padahal lagu itu diajarin pas di SD yang masih hobi upacara.

Tebak….ini huruf apa?

Perhatian yang sempat teralihkan, kembali pada dua anak itu. Kali ini mereka sedang main tebak-tebakan huruf. Bergantian mereka menggoreskan jarinya ke punggung temannya membentuk huruf. Terus nanti temannya harus nebak, itu huruf apa. Hyaa…mereka heboh berdua, meski sesekali bapaknya ikut tertawa dan menebak. Permainan anak. Ya, permainan anak. Anak-anak sekarang sukanya main apa ya? Di tengah semakin menyempitnya lahan, terutama daerah perkotaan. Apa mereka lebih suka main sepak bola di layar TV? Atau congklak di komputer? Hmm….g segitunya mungkin. Yang jelas masa kecilku sangat indah, masih banyak lapangan yang bisa dipakai lari-lari, masih banyak capung buat ditangkap, masih banyak ikan kecil buat dipancing terus dibakar dan dimakan sama-sama. Hehe…saking indahnya jadi masih kebawa-bawa, masih hobi manjat pagar sampai sekarang =p

Iya tuh, kegiatan yang butuh gerak motoris kasar harus banyak diberikan saat masih kecil. Soalnya terasa sangat berbeda klo dilakukan saat ini. Baru bermain boy-boyan sebentar aja (tapi penuh semangat, jongkok-berdiri-lari) pegelnya bisa sampai 3 hari. Sekarang mah saatnya berolah raga yang relatif konstan tapi lama atau kontinyu.

“Pak, nanti kita naik ojeg aja ya. Kakinya pegel..” pinta salah seorang anak pada bapaknya itu. Bapaknya hanya mengangguk. Kebetulan mereka berhenti di tempat yang sama dengan saya. Begitu turun, kedua anak itu langsung lari-lari, manjat dinding pembatas jalan dan menunggu bapaknya di atas tembok itu. “Haha…lagi pegel ya,De?”

(special thanks to my parents, sodara2, teman2, dan tetangga atas masa kecil yg indah)

~ oleh jussemangka di/pada 22 Januari 2009.

2 Tanggapan to “Pelangi dan masa kecil”

  1. iya ih, kangen masa kecil

    masa kecil yg indah,, banyak lagu anak2,, jaman sekarang mah gak ada lagu anak2,,

    ckckck,, kasihan anak jaman sekarang,, sedih

  2. Permainan masa kecil yang paling berkesan itu Petak Umpet… secara itu pernah jadi ritual harian di gang rumah. Jam 4 sore anak2 segang biasanya udah pada mandi dan mulai bersliweran di jalanan (dasar anak jalanan). Ntar kompakan pas jam 6/adzan maghrib pulang ke rumah karena dipanggil orangtua masing2.
    Kalo lagi mudik ke jawa… sama aja… kalo belum dimarahin sama eyang alm. kita belum pada berhenti lari-lari dan main petak umpet. Padahal rumah eyang sy gak gede dan cucunya banyak.

Tinggalkan Balasan